Tifa Tour Medan



Apa itu Wage Drift ? Tifa Tour Medan

Pengertian Wage Drift

KompasNusantara – Wage Drift adalah sebuah tempat untuk penyimpangan Upah atau gaji yang dibayarkan berdasarkan kesepakatan antara pihak kepada pegawai atau pekerja dengan pemilih usaha tersebut, didalam penyimpangan disini terlihat dari adanya perubahan jumlah upah/gaji yang dibayarkan kepada pekerja di akhir periode berbeda dibanding gaji yang sudah dinegosiasikan oleh pekerja dan perusahaan atau yang sudah ditetapkan perusahaan sebelumnya dalam kontrak (SPK). Pemahaman mudahnya kalau di Indonesia Wage Drift merupakan perbedaan antara gaji UMR dengan pendapatan total yang mereka dapatkan setelah menerima gaji. pastinya konsep penyimpangan disini bukan merupakan salah satu bentuk pelanggaran atau kecurangan dari perusahaan yang telah menurunkan gaji di bawah UMR namun justru gaji yang diberikan kepada pekerja semakin tinggi melebihi gaji yang tertera pada SPK (Surat Perjanjian Kerja) karena ada tambahan upah lainnya. 

Sebenarnya Wage drift atau dalam bahasa Indonesia berarti penyimpangan upah mengacu pada perubahan upah yang disepakati dengan upah aktual yang dibayarkan oleh pemberi kerja kepada pekerja dalam periode tertentu. Upah yang disepakati merupakan upah dari hasil kesepakatan antara pemberi kerja dengan pekerja yang tertuang dalam Surat Perintah Kerja (SPK), sementara upah aktual merupakan upah nyata yang dibayarkan oleh pemberi kerja dan diterima oleh pekerja. sehingga didalam Penyimpangan upah dapat bersifat positif dan negatif baik bagi pekerja maupun pemberi kerja. Secara umum, penyimpangan upah bersifat positif bagi pekerja namun dapat bersifat negatif bagi pemberi kerja, dan begitu pun sebaliknya. Dimana perubahan yang terjadi antara upah yang disepakati dengan upah aktual dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari sisi pemberi kerja (perusahaan) maupun dari sisi pekerja.

Sebenarnya sistem Wage Drift ini merupakan hal yang sudah dianggap sangat lumrah karena karyawan juga setuju dengan upah yang ditetapkan misalnya untuk kerja lembur atau dari insentif dan bonus yang diberikan atas sebuah prestasi kerja, di dalam slip gaji pun juga sebenarnya sudah tertera dengan jelas nominal dan keterangan terkait upah total yang didapatkan oleh karyawan selama mereka bekerja dalam satu periode. Hanya saja pembayaran upah tambahan tersebut harus realistis atau sesuai dengan jerih payah yang sudah dikeluarkan oleh karyawan untuk lembur sehingga mendapatkan bayaran sesuai yang meraka harapkan.

pada intinya untuk menaknisme penyimpangan gaji ini dilakukan oleh perusahaan tidak terlalu berkonotasi negatif yaitu dengan membayar gaji lembur karyawan di bawah upah yang seharusnya lebih tinggi jika mempekerjakan shift baru atau pekerja baru. Mungkin perusahaan juga tidak ingin membayar gaji karyawan melebihi apa yang sudah dinegosiasikan namun adanya kebutuhan misalnya tenaga kerja dan waktu lembur yang lebih banyak untuk memenuhi permintaan konsumen maka perusahaan harus membayar Wage Drift. Jadi Wage Drift disini muncul karena tuntutan kebutuhan terutama dari pihak perusahaan, namun bisa juga dari pihak pekerja sendiri juga membutuhkan uang lembur untuk menambah pendapatan sehingga bisa memenuhi kebutuhan hidupnya setra keluarganya.

Jenis Wage Drift

Disini terdapat dua jenis wage drift atau penyimpanan upah antara lain sebagai berikut. Untuk nomer pertama (Wage drift positif) yaitu upah aktual ternyata lebih besar dari upah yang telah dinegosiasikan sehingga untuk penyimpangan upah jenis ini adalah yang paling umum terjadi karena adanya Penyebab dari faktor lain mulai dari adanya pekerja lembur, bonus tambahan yang diberikan perusahaan, kinerja karyawan lebih baik dari yang diharapkan, adanya bertambahnya beban perkerjaan para pekerja dan kekurangan tenaga kerja karena faktor tertantu.

Untuk yang kedua (Wage drift negatif) ini merupakan upah aktual yang dibayar perusahaan ternyata lebih kecil dari upah yang telah dinegosiasikan. Penyimpangan upah negatif ini jarang terjadi, karena sebagian besar penyimpanan upah negatif ini di anggap sebagai pelanggaran terhadap peraturan pemerintah. Tetapi penyimpangan upah negatif yang tidak melanggar peraturan bisa saja terjadi atas Beberapa sebab dari penyimpangan upah negatif antara lain, munculnya pengurangan jam kerja karena kinerja perusahaan menurun, terus adanya pembatasan yang diberlakukan pemerintah membuat jam kerja perusahaan dikurangi, contohnya pada masa lock down pandemi corona dan Kualitas setra hasil kerja karyawan ternyata di bawah ketentuan perusahaan yang telah dibuat sebelumnya.

Faktor terjadinya Wage Drift

Untuk mengenai faktor terjadinya sistem tersebut itu biasanya berasal dari sisi pekerja biasanya berhubungan dengan produktivitas tenaga kerja, seperti upah lembur, bonus, dan dana pensiun (pension funds). Dimana hal tersebut dapat atau tidak direncanakan, namun pada dasarnya dibuat berdasarkan tujuan dan kebutuhan tertentu, sehingga manfaatnya baru dapat dirasakan ketika telah benar-benar terjadi. Sedangkan faktor yang berasal dari sisi pemberi kerja secara nyata berkaitan dengan sektor industri dari perusahaan, dan regulasi yang berlaku pada domisili sebuah perusahaan. Misalnya seperti daya saing perusahaan terhadap perusahaan lain dalam sektor industri yang sama, dan tingkat upah tenaga kerja yang ditentukan oleh pemerintah daerah atau pusat sehingga dapat memberikan keseimbangan dari segala sisi dengan begitu diharapkan kedepannya mampu memberikan manfaat bagi banyak pihak yang telah terkait didalam sistem tersebut.

Apa penyebab terjadinya Wage Drift ?

Sebenarnya untuk Wage Drift itu pada umumnya disebabkan oleh beberapa faktor yang membuat pekerja untuk bekerja ekstra atau berlomba-lomba untuk bekerja lebih rajin untuk mendapatkan uang lebih, hal disini terdapat beberapa hal yang menyebabkan terjadinya konsep tersebut diaplikasikan antara lain sebagai berikut. Dari pihak perusahaan telah menyediakan kerja lembur bagi yang minat, ini merupakan pekerjaan tambahan yang dilakukan oleh karyawan atas permintaan perusahaan. Umumnya upah lembur dihitung dengan tarif tertentu misalnya per jam atau per hari dan upah lembur disini hanya akan dibayarkan apabila tidak termasuk dalam upah dasar atau upah yang sudah disepakati dalam kontrak, dalam hal ini UMR (Upah Minimum Regional). Lembur biasanya dilakukan oleh perusahaan karena sedang kebanjiran order atau sedang memenuhi target permintaan dari konsumen yang melebihi target sebelumnya.

Terdapt Bonus tembahan yang diberikan perusahaan karena ini merupakan upah yang diberikan kepada karyawan atas sebuah prestasi dalam pekerjaanya atau ketika sebuah kelompok pekerja sudah mencapai target yang sudah ditentukan tepat waktu. Bonus bisa diberikan kepada sebagian karyawan yang berprestasi atau bisa juga diberikan kepada seluruh karyawan ketika mereka menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik dan tepat waktu. Selain itu kekurangan Tenaga Kerja sehingga Upah lebih atau Wage Drift juga bisa terjadi karena tidak ada tenaga kerja baru yang bisa direkrut dan dipekerjakan untuk memenuhi tuntutan target sehingga pekerja yang sudah ada diberikan jam tambahan untuk bekerja atau memenuhi target yang telah ditentukan berdasarkan banyaknya minat pembeli.

Contoh penerapan Wage drift

Didalam sistem Penyimpangan upah (wage drift) merupakan selisih antara tarif yang dinegosiasikan oleh industri serta upah yang sesungguhnya diberikan kepada seseorang pekerja pada akhir periode. Sebab permintaan yang tidak menyeluruh, industri terkadang memohon karyawan buat membagikan jam kerja bonus buat penuhi permintaan tersebut. Dalam perihal ini, industri wajib membayar lembur kepada para pekerja tiap jam. Lembur hendak menciptakan upah yang lebih besar yang diberikan kepada seseorang karyawan bila dibanding dengan yang dinegosiasikan oleh industri di dini kontrak. Alasannya, upah saat ini telah tercantum komponen lembur. Penyimpangan upah merupakan fenomena universal di posisi lepas tepi laut industri.

Disini kita iluastrasikan misalnya saja terdapat seorang karyawan yang telah terikat kontrak kerja sepanjang 5 hari ataupun 40 jam dalam seminggu hendak dibayar ekstra buat tiap jam mereka bekerja. Bila industri wajib menelepon karyawan mereka pada hari keenam dalam seminggu, mereka menetapkan tingkatan upah, yang sedikit lebih besar daripada yang diterima karyawan dalam paket pendapatan reguler mereka. Bila karyawan bekerja pada hari ekstra itu, beberapa duit dibayarkan selaku bonus pendapatan mereka. Kadang- kadang perpindahan upah pula ialah bagian dari keuntungan yang terbuat oleh industri. Penyimpangan upah bertambah kala industri maupun perekonomian terletak pada jalan perkembangan yang besar serta menyusut kala tingkatan perkembangan melambat ataupun sepanjang periode resesi di suatu perusahaan.

pada Intinya Wage Drift terjadi disebabkan karena dua hal, untuk yang pertama yaitu jumlah total pendapatan yang lebih tinggi. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya jam kerja lembur atau faktor lain yang membuat jumlah gaji akhir yang diterima seorang karyawan jumlahnya berbeda atau lebih besar dibanding upah UMR. Terus yang kedua karena tenaga kerja kurang dimanfaatkan. Hal tersebut terjadi karena banyak jam nganggur bagi pekerja tetapi gaji dasar masih tetap sama. Istilahnya kalau untuk pekerja malas adalah makan gaji buta tetapi dalam konteks sepi nya permintaan atau kurangnya operasional yang dilakukan perusahaan, Wage Drift ini artinya tenaga kerja memang tidak menjalankan pekerjaan karena memang tidak ada yang dikerjakan.

Apakah praktik Wage Drift dapat dihilangkan ?

Sebenarnya untuk Jawabannya pastinya sangat bisa sekali soalnya untuk pertama adalah dari struktur yang memberikan kebijakan upah minimum harus sangat solid sekali tiada celah bagi yang mencari-cari keuntungan dari praktik terlarang ini. Selanjutnya transparansi dari bawah, artinya kalau tidak ada kerjasama dengan seluruh aliansi ataupun “paguyban” pekerja maka akan sulit sekali diberantas karena payung hukumnya sudah sangat jelas sekali terutama di Negara Indonesia ini. Kita ambil saja contohnya UU Cipta Kerja yang sudah disahkan oleh pemerintah ini memberikan dampak tekanan hebat bagi khususnya karyawan, sebab dalam peruntungannya yang dijadikan sebagai objek atau pelaku utama adalah para investor baik asing atau lokal diberikan keleluasaan sebesar besarnya dan banyak diuntungkan.

untuk mengenai hukum penyimpangan Upah di Indonesia sebagai berikut, setiap perusahaan yang tidak membayar upah lembur sesuai dengan jumlah waktu lembur yang dilakukan pekerja dianggap melanggar kewajiban membayar upah lembur sebagaimana diatur dalam Pasal 81 angka 22 UU Cipta Kerja yang mengubah Pasal 78 ayat (2) UU Ketenagakerjaan, sehingga dapat dikenakan sanksi pidana kurungan minimal 1 bulan dan maksimal 12 bulan atau denda minimal Rp10 juta dan maksimal Rp100 juta untuk ketentuan ini akan berlalu sampai adanya pembaruan.

Kelebihan dan Kerugian Wage Drift

Keuntungan Wage Drift

Apabila dilihat dari sudut pandang karyawan maka adanya wage drift ini mungkin bisa menambah pendapatan di luar ekspektasi yang awalnya mengharapkan gaji UMR saja namun wage drift bisa memberikan karyawan upah yang lebih tinggi, misalnya dari bonus, insentif atau kompensasi lainnya. Apabila dilihat dari sudut pandang perusahaan maka wage drift bisa memberikan beberapa keuntungan seperti target atau permintaan dari konsumen terpenuhi dan yang kedua adalah perusahaan tidak perlu merekrut karyawan baru untuk menambah jam kerja serta bisa membayar upah yang terjangkau dibanding mencari pekerja baru yang tentunya membutuhkan waktu dan biaya yang jauh lebih besar. Selain itu misalnya jika perusahaan sering memberikan insentif atau bonus maka adanya wage drift ini bisa memacu semangat dan kerja keras karyawan.

Kerugian Wage Drift

Untuk kerugiannya sendiri mungkin adanya wage drift bagi karyawan bisa membuat karyawan harus kerja lebih keras sehingga tak jarang banyak diantaranya yang jatuh sakit karena terlalu lelah dalam bekerja di luar rentang jam kerja normal. Bisa juga karyawan tidak memiliki waktu untuk melakukan aktivitas lain atau istirahat karena terpaksa harus lembur. Kerugian bagi perusahaan adalah sulit dalam menentukan upah yang tepat. Selain itu, adanya wage drift akan menyebabkan inflasi naik apabila penambahan pendapatan tidak diimbangi dengan produktivitas para pekerja. Bahkan wage drift ini konon pernah menjadi biang kerok terjadinya inflasi tinggi di Inggris yang terjadi sekitar tahun 1960-an silam sehingga negara mengalami kerugian yang tergolong cukup signifikan pada saat itu, oleh sebab itu sebuah perusahaan dalam menerapan sistem tersebut harus berdasarkan perhitungan secara matang dan terperinci dengan baik.