Tifa Tour Medan



KISAH PERJALANAN SA’I Tifa Tour Medan

Sa’i dan Keteladanan Siti Hajar
Oleh : H. Sudono Al-Qudsi
Ibadah haji tak semata-mata merupakan ritual
yang membanggakan. Bukan pula sekedar titel untuk menaikan derajat kita di
masyarakat melainkan sebuah ibadah yang begitu sarat akan makna ketauhidan dan
keikhlasan.Keikhlasan bermakna segala yang kita lakukan semata-mata
mengharapkan ridha Allah akan selalu memberikan kekuatan jauh melebihi yang
mampu kita bayangkan dalam batasan kita sebagai manusia. Bersabar dan selalu
percaya akan datangnya pertolongan dari Allah itulah yang akan memberikan akhir
yang membahagiakan dalam setiap kisah perjuangan.
Ketabahan dan kepercayaan akan datangnya
pertolongan dari Allah ini pula yang terkandung dalam salah satu rukun haji
yaitu Sa‘i. Mempelajari rukun haji begitu indah. Banyak kisah yang terkandung
didalamnya salah satunya adalah kisah keteladanan Siti Hajar, istri Nabi
Ibrahim.
Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah
untuk meninggalkan istri dan anaknya di lembah gersang lagi sunyi yang kemudian
dikenal dengan nama Mekah.Dari Syria, Nabi Ibrahim membawa Hajar dan Ismail,
menyusuri padang pasir yang kering dan menyengat. Sepanjang perjalanan, tak ada
pepohonan bahkan mata air sebagai syarat utama kehidupan. Tak hanya itu, Nabi
Ibrahim pun sempat dilanda kecemasan bagaimana dia harus memberitahukan kepada
istrinya akan perintah Allah tersebut ?
“Wahai suamiku, apakah aku akan ditinggalkan
bersama anakmu di sini?”

Tanpa memandang wajah isterinya, Nabi Ibrahim
hanya mampu menganggukkan kepala. “Oh… kiranya karena dosaku menyebabkan engkau
bertindak begini, ampunkanlah aku. Aku tidak sanggup ditinggalkan di
tengah-tengah padang pasir yang kering kerontang ini.”
Nabi Ibrahim menjawab: “Tidak wahai isteriku,
bukan karena dosamu…”

Siti Hajar bertanya lagi: “Kalau bukan kerana
dosaku, bagaimana dengan anak ini… Anak ini tidak tahu apa-apa. Tegakah engkau
meninggalkannya?”

Kepiluan dan kesedihan Nabi Ibrahim, hanya Allah
yang tahu. Katanya: “Tidak, bukan itu maksudku. Tapi apa dayaku… ketahuilah,
ini semua adalah perintah Allah.”
Siti Hajar terdiam. Kecintaannya dan keyakinannya
akan pertolongan Allah membuat Siti Hajar akhirnya berkata kepada suaminya:
“Jika benar ia adalah perintah Allah, tinggalkanlah kami di sini. Aku ridho
ditinggalkan.” Suara Siti Hajar mantap sambil menyeka air matanya.
Ditabahkan hatinya dengan berkata: “Mengenai
keselamatan kami, serahkanlah urusan itu kepada Allah. Pasti Dia akan membela
kami. Tidak mungkin Dia menganiaya kami yang lemah ini.”
Siti Hajar menggenggam tangan suaminya. Kemudian
diciumnya, minta ridho atas segala perbuatannya selama mereka bersama.
“Doakanlah agar datang pembelaan Allah kepada kami,” kata Siti Hajar.
Tak sanggup menahan peri sebagai seorang suami
dan ayah, Nabi Ibrahim pun berdoa “Ya Rabb, sesungguhnya aku telah menempatkan
sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat
rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb, yang demikian itu agar mereka
melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada
mereka dan berilah mereka rizqi dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka
bersyukur,” (Q.S. Ibraahiim ayat 37)
Begitulah akhirnya Nabi Ibrahim pergi
meninggalkan istri dan anaknya. Pertanyaannya kemudian adalah mengapa Allah
memerintahkan Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya begitu lama ?
Begitulah Allah menguji keimanan Nabi Ibrahim dan keluarganya.
Selesai berdoa, tanpa menoleh ke arah isteri dan
anaknya, Nabi Ibrahim terus meninggalkan tempat itu dengan menyerahkan mereka
terus kepada Allah. Tinggallah Siti Hajar bersama anaknya yang masih merah
dalam pelukannya. Diiringi kepergian suaminya dengan linangan air mata dan
syukur. Ditabahkan hati untuk menerima segala kemungkinan yang akan terjadi.
Tidak lama selepas kepergian Nabi Ibrahim,
perbekalan makanan dan minuman pun habis. Air susunya juga kering sama sekali.
Anaknya Ismail menangis kehausan. Siti Hajar
kebingungan. Di mana hendak diusahakannya air di tengah padang pasir yang
kering kerontang itu?

Ketika dia mencari-cari sumber air, dilihatnya
dari jauh seperti ada air di seberang bukit. Dia berlari ke arah sumber air
itu. Tetapi apa yang dilihatnya hanyalah fatamorgana.
Namun Siti Hajar tidak berputus asa. Dari tempat
lain, dia melihat seolah-olah di tempat di mana anaknya diletakkan memancar
sumber mata air.

Dia pun segera berlari ke arah anaknya. Tetapi sungguh
malang, yang dilihatnya adalah fatamorgana. Tanpa disadari dia bolak-balik
sebanyak tujuh kali antara dua bukit, Safa dan Marwa untuk mencari sumber air.
Tubuhnya keletihan berlari ke sana ke mari
mencari sumber air, namun tiada tanda-tanda dia akan mendapat air. Sedangkan
anak yang kehausan itu terus menangis sambil menghentak-hentakkan kakinya ke
bumi. Tiba-tiba dengan rahmat Allah, sedang Siti Hajar mencari-cari air,
terpancarlah air dari dalam bumi di ujung kaki anaknya Ismail.
Pada waktu itu gembiranya hati Siti Hajar bukan
kepalang. Dia pun mengambil air itu dan terkeluar dari mulutnya, “Zam, zam,
zam..” yang berarti, berkumpullah, berkumpullah. Seolah-olah dia berkata kepada
air itu, “Berkumpullah untuk anakku.”
Begitulah asal usul salah satu rukun ibadah haji
yang mengajarkan kita untuk selalu menyakini akan adanya pertolongan Allah.
Perintah sa’i langsung diperintahkan oleh Allah sebagaimana tersurat dalam Al
Baqarah 158 : “Sesungguhnya Shafa dan Marwah itu adalah daripada syiar-syiar
Allah jua. Maka barangsiapa yang naik haji kerumah itu atau umrah,
tidaklah mengapa bahwa dia keliling pada keduanya. Dan barangsiapa yang
menambah kerja kebaikan, maka sesungguhnya Allah ada­lah Pembalas terimakasih,
lagi Maha Mengetahui.”

Sa’i merupakan
salah satu rukun dari rukun-rukun sahnya ibadah haji.  Sa’i secara bahasa
bermakna: Bekerja, berusaha, berjalan, berlari. Sedangkan menurut istilah dalam
ilmu fiqih/hukum islam, sa’i ini sendiri bermakna: Berlari-lari kecil antara
bukit Shafa dan bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Dimulai dari bukit Shafa dan
berakhir di bukit Marwah.
Sebagai salah satu dari rukun sahnya ibadah haji, sai dilakukan setelah
melaksanakan thawaf, baik thawaf umroh maupun thawaf ifadhoh. Tidaklah sah Haji
seseorang apabila tidak melakukan sa’i ini. Hal ini berdasarkan firman Allah
SWT dan juga hadits Rasululloh SAW berikut ini :
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah”
Kemudian diriwayatkan dari Imam Ad-Daruquthni dan yang lainnya dalam kitab
Majmu’ dengan sanad yang hasan, bahwasannya Rasululloh SAW pernah melakukan
sa’i sambil menghadap kiblat lalu beliau bersabda:“Lakukanlah sa’i karena
sesungguhnya sai ini telah diwajibkan kepada kalian.”
          Berdasar dalil diatas maka sa’i
ini sesungguhnya merupakan ibadah yang diwajibkan kepada para jamaah Haji atau
Umroh agar mereka mengingat tentang sebuah kisah yang terkandung didalamnya,
agar mereka dapat mengambil pelajaran yang besar dari kisah yang terkandung
dibalik perintah tersebut. Kisah Sa’i ini berawal dari kisah Nabi Ibrahim AS
mengajak istrinya Siti Hajar dan anaknya Nabi Ismail AS yang saat itu masih
bayi ke suatu negeri yang merupakan cikal-bakal Makkah saat ini. Makkah sendiri
pada saat itu masih merupakan negeri yang sunyi tanpa penghuni dan masih gersang.
Dikisahkan pula bahwa Nabi Ibrahim secara tiba-tiba meninggalkan istri dan
anaknya disamping sebuah pohon yang besar untuk berteduh. Beliau kemudian
melanjutkan perjalanan sendiri saja dan meninggalkan istri dan anaknya dengan
berbekal beberapa kurma dan bejana yang berisi air saja karena menuruti
perintah dari Allah, beliau meninggalkan mereka berdua disana untuk melanjutkan
perjalanan memenuhi panggilan dan perintah dari Allah SWT . Beliau
kesampingkan kekhawatiran dalam hatinya meninggalkan istri dan anaknya ditempat
asing tersebut sambil berdo’a: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menempatkan
sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat
rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhanku, yang demikian itu agar mereka
mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada
mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, agar mereka bersyukur..”
Setelah sekian
lama setelah ditinggalkan, tentu saja persediaan kurma dan air dalam bejanapun
habis sehingga Siti Hajar pun khawatir sebab sang suami tak kunjung kembali.
Naluri seorang ibu yang begitu sayang kepada anaknya dan rasa khawatir dengan
kondisi tersebut mendorong Siti Hajar untuk berusaha mencari air minum agar
dapat menyusui anaknya kembali.
Siti Hajar meletakkan anaknya Nabi Ismail AS dibawah pohon tersebut dan segera
berusaha mencari air, berjalan dan berlari-lari kecil ke bukit Shafa namun tak
jua menemukan sumber air, kemudian berlari-lari kecil kearah bukit lainnya
yaitu bukit Marwah, namun juga tak menemukan sumber air. Hal ini dilakukannya
terus-menerus, bolak-balik Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali.
Akhirnya Siti Hajar mendengar suara yang menyuruhnya diam. Ternyata suara itu
berasal dari Malaikat. Siti Hajar diperlihatkan keajaiban berupa air yang muncul
disebabkan oleh hentakan kaki Nabi Ismail yang masih bayi itu. Inilah cikal
bakal air Zam Zam yang sangat terkenal itu.
Selanjutnya ia pun turun, mengisi bejana dan memberi minum putranya, Nabi
Ismail. Setelah beberapa waktu berlalu, ada sebuah rombongan dari suku Jurham
datang ke tempat tersebut. Mereka tinggal di sekitar air zam-zam bersama Siti
Hajar dan Nabi Ismail AS. Ini semua ini atas izin dari Siti Hajar.
Sa’i merupakan salah satu rukun haji dan umrah yang
dilakukan dengan berlari-lari bolak balik tujuh kali dari Bukit Safa ke Bukit
Marwah, dan sebaliknya. Dua bukit itu berjarak sekitar 405 meter (dalam
literatur lain disebutkan 450 meter). 
Safa adalah bukit kecil di sebelah selatan Ka’bah. Bukit ini
menjadi titik awal pelaksanaan sa’i. Sedangkan Marwah bukit kecil di sebelah
utara Safa. Marwah menjadi titik akhir pelaksanaan sa’i.
Sa’i melekat erat dengan riwayat Siti Hajar, wanita mulia
yang ditinggalkan di padang pasir tandus oleh Nabi Ibrahim AS, sang suami, atas
perintah Allah SWT.  Saat itu Siti Hajar ditemani sang putra, Ismail AS,
yang masih bayi berjuang mempertahankan hidup. Karena itu sa’i menjadi napak
tilas perjuangan dan penderitaan Siti Hajar.
Dalam riwayatnya, sebelum Siti Hajar dan Ismail ditinggal di
tanah gersang itu, Mekah merupakan wilayah tanpa penghuni setelah peristiwa
banjir di zaman Nabi Nuh. Sedangkan Ka’bah tinggal berupa gundukan batu bulat
tanpa ada seorang pun yang merawatnya.
Saat itu, Allah SWT menghendaki Ibrahim AS yang tinggal di
Kanaan (Palestina) pergi jauh melintas padang pasir panas dan gersang bersama
anak dan istrinya, ke wilayah bernama Hijaz. Belakangan diketahui Hijaz itulah
letak Baitullah yang rusak karena banjir bah. 
Setelah tiba di tempat sesuai perintah Allah SWT, Nabi
Ibrahim AS segera kembali ke Palestina dan tanpa berkata apa-apa
ditinggalkannya sang istri dan bayi yang sangat didambakannya selama hidupnya.
Ibrahim hanya meninggalkan sekantung kurma dan air sebagai bekal Siti Hajar.
Ketika Ibrahim semakin jauh berjalan, Siti Hajar semakin
cemas akan apa yang terjadi. Ia kemudian meninggalkan Ismail sebentar, berdiri,
dan menyusul suaminya sambil bertanya,”Wahai suamiku, akan kemanakah
engkau dan kenapa aku dan anakku kau tinggalkan di sini, tempat yang kosong
tidak ada apa-apanya?”
Ibrahim tidak menghentikan perjalanannya, tidak menengok dan
tidak mengatakan sepatah kata pun. Kepedihan hatinya terlalu dalam. Siti Hajar
masih terus mengejarnya dan kembali bertanya karena ia ditinggalkan di tempat
yang asing tanpa seorang teman pun, hingga akhirnya ia bertanya, “Apakah
Allah memerintahkanmu berbuat demikian?” Mendengar pertanyaan itu, Ibrahim
berhenti dan mengiyakan.
Setelah mendapat jawaban dari sang suami, Siti Hajar
 hanya mempunyai satu pertanyaan tambahan, “Wahai Ibrahim kepada
siapa engkau menitipkan kami?” Jawaban Ibrahim jelas dan langsung kepada
intinya, “Aku menitipkanmu kepada perlindungan Allah.”
Ibrahim kembali melanjutkan perjalanannya, setelah sampai di
perbatasan ia berhenti dan menghadap ke Ka’bah, seraya mengangkat kedua
tangannya dan berdoa (QS Ibrahim; 37):
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya
aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai
tanam-tanaman di dekat rumah suci-Mu itu. Aku berbuat demikian ya Tuhan kami,
demi memungkinkan mereka mendirikan salat. Karena itu, jadikanlah hati sebagian
manusia gandrung mencintainya. Dan berilah mereaka rezeki dari buah-buahan,
semoga mereka bersyukur.”
Sementara Siti Hajar kembali kepada anaknya, Ismail. Suatu
ketika habislah persediaan kurma dan air yang menjadi bekalnya. Ismail yang
haus dan lapar menangis. Siti Hajar tidak tinggal diam. Siti Hajar yang bingung
berusaha mencari bantuan dengan berlari dari Safa ke Marwah mengharap ada
musafir yang melintas. Upaya itu dilakukan hingga tujuh kali.
Pada saat habis pengharapannya, datanglah malaikat Jibril.
Melalui kaki Ismail, Jibril menghentak tanah sehingga keluarlah air zamzam.
Lokasi Safa dan Marwah kini masuk dalam bangunan Masjidil
Haram.  Kedua bukit dihubungkan dengan bangunan panjang berlantai dua.
Dengan lebar 20 meter, jalur sa’i dibagi menjadi empat, masing-masing dua jalur
untuk pejalan kaki dan dua jalur untuk orang sakit yang harus didorong dengan
kursi roda. 
Perjalanan sa’i kini tidak terlalu melelahkan karena ruangan
yang ber-AC. Di beberapa titik juga disediakan air zamzam bagi jemaah yang haus
dan lelah. Di bangunan ini dipasang juga pilar dengan lampu neon berwarna
hijau. Saat melintas jalur ini, jemaah pria disunahkan untuk berlari-lari
kecil. Sedangkan jemaah wanita berjalan cepat.
Meski menyatu dengan bangunan Masjidil Haram, namun hukum
kesuciannya sa’i tetap berlaku terpisah, bahwa lokasi ini berada di luar masjid
sehingga wanita yang sedang menstruasi boleh melakukan sa’i.
Dalil sa’i tertuang dalam surah Al Baqarah (2): 158),
di mana Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Safa dan
Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barang siapa yang beribadah
haji di Baitullah atau berumrah maka tidak ada dosa baginya mengerjakan
sa’i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan satu kebajikan dengan
kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha
Mengetahui.”
Langkah pertama melaksanakan sa’i adalah pergi ke lokasi
masa’a, tempat antara Safa dan Marwah. Ketika mendekati Bukit Safa bacalah
doa (QS Al Baqarah (2): 158). Kemudian naiklah ke safa, lalu berdirilah
menghadap Ka’bah, memuji Allah, bertakbir tiga kali kemudian berdoa.
Setelah berdoa, turunlah dari Safa dan berjalan di antara
dua bukit dengan kecepatan normal. Menyebut nama Allah, membaca ayat Al Quran
dan berdoa sambil berjalan. Bagi jemaah laki-laki berlari-lari kecil  pada
tanda hijau.
Jika sudah sampai di Marwah, menghadaplah ke kibtal dan
membaca zikir seperti yang dibaca di Safa tanpa membaca ayat  (QS Al
Baqarah (2): 158) dan berdoa. Berdoalah untuk diri sendiri, keluarga dan
seluruh kaum muslimin.
Setelah itu turun lagi dengan berjalan. Jika sampai di tanda
hijau berikutnya, berlari lagi hingga tanda hijau berikutnya. Lalu berjalan
seperti biasa hingga naik ke Safa.
Ulangi hingga tujuh kali dan berakhir di Marwah. Berjalan
dari Safa ke Marwah dihitung satu kali sa’i, begitu pula perjalanan dari Safa
ke Marwah dihitung satu kali sa’i.
DEMIKIANLAH
TULISAN INI SEMOGA BERMANFAAT AMIIN.