Tifa Tour Medan



Perjalanan di Dua Kota Suci Islam (Madinah Al Munawarah dan Makkah Al Mukarromah) Part I Tifa Tour Medan

Tulisan kali ini bercerita
tentang pengalaman saya umroh bersama mamak yang dilaksanakan pada tanggal 14
s.d. 23 Mei 2018 yang bertepatan dengan awal bulan Ramadhan 1439H. Ada hadits
bahwa barangsiapa yang melakukan umroh di bulan Ramadhan maka ia seperti melaksanakan
haji bersama Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam, maka betapa beruntungnya
bisa dipanggil Allah untuk umroh di bulan Ramadhan ini.
Adapun persiapan yang saya
lakukan sebelum melakukan perjalanan ini adalah melunasi segala pembayaran terkait
biaya umroh, membeli perlengkapan pakaian umroh, menukarkan uang ke mata uang
riyal, melakukan manasik umroh dan suntik meningitis di Asrama Haji Medan, dan
juga menyelesaikan urusan pekerjaan kantor (walaupun akhirnya ada yang tetap
dititipkan ke teman kerja) dan juga tugas-tugas kuliah. Persiapan tersebut
seharusnya juga dilengkapi dengan berolah raga atau menyiapkan fisik karena
ibadah umroh memerlukan fisik yang sehat dan kuat, meskipun tidak seberat haji,
apalagi umrohnya dilakukan pada bulan Ramadhan yang pada bulan tersebut cuaca
di Makkah sangat panas mencapai 43-45°C.
Ini Foto bersama Nenek Siti Fatimah sebelum berangkat ke Madinah
Kami berangkat pada tanggal 14
Mei 2018 dari bandara Kuala Namu, Deli Serdang menuju Madinah menggunakan
maskapai Saudi Airlines. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih delapan jam di
pesawat. Waktu Indonesia lebih cepat empat jam dibandingkan waktu di Arab
Saudi. Pertama kalinya menaiki pesawat luar negeri berukuran besar dan
pramugari/pramugaranya adalah orang asing. Yang menyedihkan adalah ternyata
tempat dudukku dan mamak berseberangan dan terpisah oleh pembatas, sehingga
saya harus bolak-balik mengecek keadaan mamak dan setiap kali saya mengeceknya,
mamak selalu dalam keadaan tidur. Setelah turun di pesawat mamak pun bercerita
bahwa dia bolak-balik ke kamar mandi karena kekenyangan makan.
Setiap jamaah di Madinah maupun
di Makkah akan dipanggil dengan gelar “Yaa Hajjah”, “Yaa Hajjiah”, atau kalau
sudah ibu-ibu akan dipanggil “Yaa Mama”. Ada kejadian lucu di bandara Madinah. Peraturan
di Arab bahwa seorang perempuan yang 
berumur di bawah 40 tahun jika bepergian umroh/haji harus ditemani
mahramnya, karena saya belum bermahram akhirnya nama seorang jamaah bapak-bapak
lah yang menjadi mahram saya. Jadi ketika di imigrasi bandara Madinah, saya pun
harus berada tepat di belakang bapak tersebut agar menghindari kecurigaan dari
petugas imigrasi. Alhamdulillah petugas imigrasi pada saat itu tidak iseng
menanyakan tentang mahram. Menuju hotel kami menggunakan bus dan tiba di hotel
Salihiyah Madinah pada malam hari dan langsung dilakukan pembagian kamar.
Alhamdulillah saya sekamar dengan mamak dan hanya berdua, biasanya kalau berdua
seperti itu dikenakan biaya tambahan, tapi Alhamdulillah baik di Madinah maupun
di Makkah, kami sama sekali tidak dikenakan tambahan biaya.
Setelah pembagian kamar dan
meletakkan barang-barang, kami pun bersama-sama menuju Masjid Nabawi untuk
melaksanakan sholat jama’ maghrib dan isya. Sungguh senang dan terharu bisa
mengunjungi Masjid Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami pun sujud syukur
untuk mensyukuri nikmat yang sangat langka itu. Alhamdulillah lokasi hotel kami
dekat dengan Masjid Nabawi dan langsung menuju Gate 26 yang menuju lokasi
sholat jamaah wanita juga dekat dengan tempat perbelanjaan. Prinsipnya adalah
gate yang kita masuki harus sama dengan gate ketika kita keluar untuk
menghindari tersesat.

bersambung